ketua-partai-ukm-indonesia-dari-aktivis
Surabaya Kota, Jakarta – Tokoh muda pergerakan dan intelektual ini pada 7 Mei 2021 mendirikan Partai UKM Indonesia dan dipilih sebagai Ketua Umum DPP Partai UKM Indonesia di Senen, Jakarta Pusat. Partai berbasis pelaku UMKM dan Koperasi ini juga memilih Herdianti Puspitasari, S.Si sebagai Sekretaris Jenderal dan Dipl T. Peratikno Rz sebagai Bendahara Umum, serta menyusun jajaran pengurus.

Anak muda milenial ini sejak masa SMA sudah pernah terlibat sebagai aktifis pergerakan. Syafrudin Budiman sejak masuk kuliah dirinya mulai dikenal sosok muda yang energik di kalangan aktifis demokrasi, HAM, LSM, politisi dan media di Jawa Timur.

ketua-partai-ukm-indonesia-dari-aktivis

Pada tanggal 1 Mei 2002 bertepatan pada hari buruh internasional (May Day). Ia ditangkap oleh polisi saat berdemonstrasi di Jl. Semarang Surabaya, bersama 6 rekan lainnya dan digiring ke Mapolres Surabaya Utara Jl. Bubutan, Surabaya.

Koran Jawa Pos dan berbagai media cetak dan elektronik menulis berita penangkapan aktivis sebagai headline, saat berdemontrasi di hari buruh. Berkat negoisasi dengan polisi saat itu, tepat Hari Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei, Syafrudin Budiman dan 6 rekannya dilepaskan. Tampak terlihat di foto-foto media dirinya dipukuli tongkat oleh polisi, sehingga menyebabkan tangan dan kepalanya memar.

“Bagi saya memperjuangkan rakyat tertindas adalah ibadah, tunduk dan menghamba pada kekuasan adalah syirik. Agama Islam mengajarkan untuk berbuat Amar Makruf Nahi Mungkar dan menyekutukan Allah SWT atau syirik pada kekuasaan dzolim tiada ampunan-Nya,” kata Budiman Sang Revolusioner sapaan akrabnya.

ketua-partai-ukm-indonesia-dari-aktivis

Pria kelahiran Sumenep, 21 Mei 1980 ini, memang layak disebut “Sang Revolusioner Muda.” Sejak lulus SMA dirinya sudah biasa mempimpin gerakan demonstrasi dan terlibat dalam isu-isu HAM dan demokrasi.

Ketika semangat reformasi sedang digelorakan oleh Amien Rais, Gus Dur, Megawati dan tokoh politik nasional lainnya. Kira-kira antara tanggal 23-24 Mei 1998 dan tepat beberapa hari setelah ulang tahunnya ke 18. Syafrudin Budiman memimpin demontrasi besar-besaran di Kabupaten Sumenep menuntut bergulirnya reformasi. Tepat dua hari setelah momen jatuhnya Diktator Presiden Suharto.

“Isu yang diusung saat ia memimpin demonstrasi reformasi 98 diantaranya, menuntut penuntasan kasus-kasus korupsi, pengadilan terhadap Suharto dan Cabut Dwi Fungsi ABRI/TNI. Selanjutnya isu pencabutan lima paket UU politik, kebebasan pers, serta penegakan HAM dan demokrasi,” terang pengagum Che Guevara dan Soe Hoek Gie ini.

ketua-partai-ukm-indonesia-dari-aktivis

Waktu itu Reformasi 98 juga menggelinding sampai ke Kabupaten Sumenep kota kelahirannya. Sama seperti kota-kota lainnya di Indonesia. Sedangan untuk Sumenep isu yang digelindingkan adalah pemberantasan korupsi di Kabupaten Sumenep yaitu, sembako murah, reformasi birokrasi dan mendesak turunnya Soekarno Marsaid (Bupati Sumenep saat itu).

Syafrudin Budiman dengan penuh semangat bersama teman-temannya tetap melakukan demontrasi, walaupun waktu itu ada himbauan untuk tidak melakukan demontrasi. Ia waktu itu, memimpin langsung demontrasi dengan memakai kaos putih “Bull Dog Fish”.

Demontrasi itu berjalan lancar dan secara resmi diterima pimpinan DPRD Kabupaten Sumenep, Polres dan menuju kantor Bupati mendesak Soekarno Marsaid mundur. Ia tetap memimpin aksi demontrasi di tengah-tengah massa yang sudah panas, bahkan bisa saja menjadi anarkis dan terjadi chaos. Syafrudin Budiman malah tampak tenang dan terus melakukan demontrasi.

“Massa sudah panas dan tetap ingin menyuarakan aspirasinya waktu itu. Saya bilang, biarkan kami berdemonstrasi, yang penting aman dan saya yang bertanggungjawab,” ucapnya kepada aparat yang ikut was-was melihat keadaan waktu itu.

Setelah bulan Mei 1998, ia langsung mendaftarkan diri sebagai mahasiswa di Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) jurusan Bahasa Inggris. Selesai Ospek (orentasi pendidikan kampus) dan sebelum memulai menerima pelajaran mata kuliah, tepat tanggal 9 September 1998. Syafrudin Budiman bersama teman-teman mahasiswa se-angkatan, mulai mengikuti demontrasi dengan isu menolak kedatangan Presiden BJ Habibie pada Hari Olahraga Nasional.

Ia ikut aksi bersama 3000-an mahasiswa Surabaya yang tergabung dalam Arek Pro-Reformasi (APR) yang beraliansi dengan massa buruh dan PDI Perjuangan mendemonstrasi Presiden “BJ Habibie”.

“Diantara para korban yang kena pukul aparat, banyak temen-teman saya sekelas. Saya cukup prihatin, tapi kejadian itu tak pernah menyurutkan saya bergerak,” kata Rudi dengan menceritakan kejadian yang terjadi.

Sejak momen demontrasi itulah ia mulai mengenal senior-seniornya di kampus UWKS. Disanalah semangat revolusionernya terpatri dan menggelora.

Ratusan demontrasi dan diskusi ilmiah sering dia ikuti, sehingga akhirnya ia memutuskan berhenti kuliah di Jurusan Bahasa Inggris FKIP UWKS. Jurusan ini ditinggalkannya dan pindah ke Jurusan Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UWKS untuk mengasah kepekaan sosialnya.

Sampai menjelang pemilu legeslatif 1999, Syafrudin Budiman mulai resah. Reformasi yang ia gelorakan bersama teman-temannya, mulai akan dibajak oleh partai politik berbendera reformis gadungan dan sisa-sisa orde baru.

Kebutuhan untuk terlibat aktif dalam kancah politik kemasyaratan mulai tumbuh. Apalagi saat itu dirinya diajak oleh seniornya di FISIP UWKS, Moh. Sholeh mengajaknya untuk bergabung ke Partai Rakyat Demokratik (PRD). Sebuah partai politik yang mengusung jargon idealisme “Sosial Demokrasi Kerakyatan.”

“Saya sering di-indentikkan sebagai aktifis kiri. Walaupun keluarga saya dari aktifis dan tokoh Muhammadiyah/Islam Modernis. Kiri bagi saya adalah simbol perlawanan terhadap penindasan dan Muhammadiyah berada didepan melawan penindasan, terutama membela kaum mustada’afin (kaum lemah) dari kemiskinan dan kebodohan,” ujar Syafrudin Budiman yang ibunya pernah menjadi Ketua PD Aisyiah Kabupaten Sumenep dan bapaknya adalah ustad di Majelis Tabligh Muhammadiyah Kabupaten Sumenep.

Bersama Moh. Sholeh (saat ini menjadi pengacara terkenal di Jawa Timur) dan beberapa temannya di kampus yang tergabung dari organisasi benama ABRI (Aliansi Bersama Rakyat Indonesia). Budiman Sang Revolusioner ini mengusung bendera PRD sebagai simbol perlawanan politik terhadap kekuasaan.

Syafrudin Budiman ditunjuk sebagai Ketua Pimpinan Kota Partai Rakyat Demokratik (KPK PRD) Kabupaten Sumenep oleh Moh. Sholeh Ketua KPW PRD Propinsi Jawa Timur. Pilihannya bergabung ke PRD tidaklah mudah, tentangan dari keluarga dan temannya mulai dirasakan sebagai konsekuensi pilihan politiknya.

“Sayang PRD gagal tampil sebagai partai politik. Tetapi niat tulus untuk memperjuangkan rakyat kecil tidak hanya lewat parpol, namun juga bisa lewat pendampingan secara intensif di basis rakyat,” terang Rudi yang sering mengorganisir petani, buruh, mahasiswa dan kaum miskin kota

Lewat pemilu 1999 inilah, ia mulai banyak mengenal dan dikenal oleh tokoh-tokoh lokal Kabupaten Sumenep.